POCONG VS ADEGAN NO SENSOR
Juni 13, 2008 at 9:20 am | In realita | 9 Comments
SUMPAH POCONG DI SEKOLAH..
Yah… itulah judul sebuah film horor yang tayang di bioskop sekarang2 ini. Dari judulnya saja pasti kita sudah menerka seperti apa film ini, tak mungkin jauh beda dengan film2 horor Indonesia seperguruannya dulu ( kuntilanak, sundel bolong, n terowongan Casablanca )hehe… kayaknya ketauan nih aku udah liat semuanya.
Film2 horor Indonesia yang sudah barang tentu menjual sensasi efek suara yang menonjol daripada kreatifitas atau keorisinilan ide cerita. Sebenarnya bagi orang yangpenakut melihat film2 diatas tak masalah menurutku, tapi yang perlu ditakuti adalah kejutan2 efek suara yang dibuat oleh orang filmnya yang membuat orang yang awalnya tak takut jadi takut .
Begitu pula yang aku dapatkan di film ini, efek2 suara yang menonjol n lebih dominan menghiasi sepanjang film ini. Tak seberapa jika dibandingkan keseraman pemeran setannya yang bukan pocong. Memang benar kisah2 seperti ini adalah made in Indonesia tapi ya masa seperti itu saja kreatifitas kita. Nggak kan??
Yang akan saya bahas disini bukan kreatifitas, melainkan isi dan beberapa fenomena yang terjadi. Hehe… kayak apa ae.
Pertama saya mengantri disebuah bioskop daerah pinggiran kota Surabaya ( 10ribu, sapa yang gak mau? ). Tau kan tempatnya. Nah, Dari situ aku pilih tuh film karena temenku yang minta. Aku ikutan aja sih…. Pukul 12 tet, penonton udah ngantri buat masuk bioskop. Kebanyakan anak kecil, ya kira2 seumuran SD lah. Jadi mirip kayak sekolah SD lagi pindah gitu.
Film dimulai, nah Dari sinilah satu fakta muncul. Di script awal sebelum film mulai tertera tulisan UNTUK DEWASA. Satu pemikiran muncul, untuk dewasa? Hm… kok yang nonton bebas? Entahlah. Aku tak pikirkan itu, mungkin aja label untuk dewasa dipasang karena ini film horror.( gak nyambung ya? ) atau mungkin udah ada sensor. Lanjut ke filmnya, adegan awal yang semakin buat aku tercengang. Film ini ceritanya tentang sebuah sekolah khusus cowok dimana pas itu ada 3 murid baru Abdul, Rahman, n Saleh. Nah biasa lah kalo senior, kerjaannya jailin murid baru. Itu yang dilakukan Dimas, Raymond, n XX (lupa namanya). Mereka menggunduli semi bulu juniornya, dengan alas an kalo masuk skul ini harus ikut prosesi lihat hantu. 3 orang ini dengan lugunya mau aja dikibulin. Singkat cerita 3 orang ini disuruh telanjang supaya bisa liat hantu. Nah adegan telanjang ini aku kira seperti film2 indo kebanyakan, hanya sebatas pinggang yang di sorot. Nyatanya di film ini 3 pemeran junior tadi benar2 bugil, entah apa ini Cuma rekayasa atau tidak. Yang jelas dalam film ini terlihat jelas mereka benar2 telanjang.
Itu hal pertama, film ini yang nonton banyak anak kecilnya tapi adengan awal sudah seperti ini. Lanjut ke berikutnya, kini giliran penari Striptease (pokoknya peneri gituan deh) muncul dengan tariannya yang benar2 maaf: erotis didepan 3 cowok senior itu. Apa ini juga bukan adegan yang sedikit gimana gitu mengingat banyak anak kecil yang menonton. Selanjutnya giliran para cowok2 yang melakukan “kegiatan” yang mungkin tak perlu di ekspos di di dalam film. Untuk ukuran anak kecil mungkin ini sesuatu yang belum pernah mereka lihat.
Dengan full adegan seperti itu dan buka2an yang sangat berani membuat aku berkesimpulan bahwa film ini memang seharusnya hanya untuk dewasa dalam artian 17+. Tapi kenyataanya anak kecil tak mendapat larangan Dari pihak bioskop untuk tidak menonton film ini. Melainkan pihak bioskop tetap melayani pembelian tiket untuk film ini walaupun mereka anak kecil. Entahlah apakah pihak sensor film menyatakan adegan tersebut masih dalam batas wajar, atau memang film ini seharusnya diputar saat2 tertentu saja.
Dari film ini mungkin walaupun hanya sekedar film tapi masih mengandung sedikit unsur2 yang tidak terlalu penting menurutku. Atau persepsi orang beda2 sih, n mungkin juga adegan diatas menurut orang lain n anda mungkin masih wajar jika diputar jam12 siang dan dalam konteks yang menonton kebanyakan anak kecil.
Saran ku jika anda mau menilai film ini, tontonlah dan beri argument atau sanggahan jika film ini anda rasa masih wajar. Dengan catatan dengan konteks yang sama bukan dari anda pribadi. Kalau aku pribadi menilai untuk ukuran seusiaku (18th) mungkin masih wajarlah. Tpi kali ini aku menilai Dari konteks secara umum.
Bagaimana menurut anda??
nb: maaf cover filmnya aku buat sendiri… hehehe
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.






ini cuma pendapat, tentu ada pro dan kontra donk. so, jangan pernah ada yang tersinggung. hehe
Komentar oleh djagung — Juni 13, 2008 #
Gokiiil!!
>______<
Arek cilik oleh nonton lek mbayar!
Ckakakakak!!!!!
oalah, jadi biar gak ngajari elek gitu ya je, mangkanya ada rating sgala..
Aneh…
=))
Komentar oleh Shei — Juni 14, 2008 #
@ ya gitu deh masa anak kecil boleh aja nonton gituan???
apa kata dunia shei…????
Komentar oleh djagung — Juni 14, 2008 #
Q rasa ada bnernya juga ttg tanggapan u itu td, ga seharusnya anak yang masih di bawah umur liat hal-hal yang memang ga seharusnya mereka tonton. Q lebih suka jika mereka nonton film kungfu panda aja kan kartun semua tuh hehehehehe
Komentar oleh ayu — Juni 14, 2008 #
@ayu
bener tuh… mending nonton kungfu panda. kayaknya seru ( katanya sih) belum ada waktu buat nonton. hehehe
mungkin film itu bisa lebih mendidik daripada film diatas….
Komentar oleh djagung — Juni 17, 2008 #
g ngeri coyyyy
Komentar oleh alfa — Oktober 8, 2008 #
ngno ae kok ngeryy ngery yo aku ki nang ngurinem???????????????????????????????????????????????????
Komentar oleh pocong x-tdu — November 25, 2008 #
yo wes gak urusi ?????????????????????????
Komentar oleh wewe gombel banci@yahoo — November 25, 2008 #
gak usah wedi enek aku neng kene
Komentar oleh paeman — November 25, 2008 #