Kala itu, ya. Tepatnya beberapa hari yang lalu, setelah menanti. Terjawab sudah sebuah keinginan untuk menemukan sosok nyata dalam tubuh dan raga teman mayaku. Kita memang sama-sama tak mengenal (awalnya), bahkan untuk sekedar menyapa lewat sms pun adalah hal yang tabu, hanya jika ada keperluan penting saja kita berkeluh lewat layer monokrom. Sekarang kita bertemu dalam dunia nyata.
***
Tiga bulan lalu, mengenal sosokmu dalam sebuah kisah karyamu yang di publish dalam bingkai biru dunia maya. Masih belum mengenalmu, bahkan menyadari bahwa dalam beberapa kali persaingan kau adalah musuh terberat.
Suggest friend dari seorang kawan membawaku pada wall facebooknya. Menyapa dengan sedikit keraguan, karena biasanya seorang penulis yang sedikit tenar susah untuk berteman apalagi membagi kisah dan pengalamannya selama ini. Tak begitu dengannya, sosok yang sering menyebut dirinya pujangga keren pada setiap akhir kalimat pesan singkat yang aku terima membuatku membuka mata bahwa memang seseorang tak akan bias mencari teman baik jika tak memulainya sekarang. Perlahan bait-bait kalimat puitis mengantarku pada kedekatan persahabatan yang semakin karib, membawa tiap-tiap kisah perjuangannya menelusup pada sela-sela kisah hidupku, merembeskan tiap keluhnya pada alir suka citaku berharap dapat saling melengkapi satu sama lain.






Yang sempat singgah