Kala Butir Air Langit Menepuk Debu

26 02 2011

 

Langit mulai menitikkan butiran benih seperti tangismu semalam. Tidak, kau tak menangis, kau hanya mencoba memahami tiap pesan yang tak tersampaikan lewat butiran air langit yang Menepuk desir debu di pijakan kakinya. Kerinduan itu tak pernah terobati meski tak begitu lama terselipnya namamu di hidupku yang sudah sesak dengan jutaan nama yang hanya sekedar aku ingat, bukan yang lebih aku ingat, sepertimu.

 

***

 

Langit masih redup, entahlah mungkin ini memang hari bahagia untukmu. Bukan hanya untuk sesekali menggerakkan pena di atas lembar-lembar kosong diari setelah lembar kemarin yang penuh sesak dengan curahan hati yang masih tercipta kala hujan turun. Mirip lantunan syair pujangga yang mungkin tak pernah tersampaikan kepada awam maksud dan inginnya. Tapi itulah kau, seorang penulis yang merasa dirinya sederhana dan bukan apa-apa. Sebaliknya untukku, sosok yang kurasa tak pernah bermuram, sosok yang penuh ambisi tapi sedikit berapi, mengalahkan kobaranku. Sesekali dia tunjukkan padaku sebuah maha karya tulis yang hanya kau sebut dengan “coretan”, aku pikir itu coretan penuh makna. TAARUF, salah satu mahakarya darimu yang membuat sekat antar kau yang notabene sudah start lebih awal di dunia tulis menulis dan aku seorang yang bukan apa- apa yang ingin juga menggoreskan pena. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.