Aku kacaukan takdirnya

24 12 2007

…..

Dibawah langit malam ketujuh semenjak aku kehilangan separuh nyawaku, aku termenung. Terlintas lagi kejadian yang telah mengorbankan teman terbaikku. 5 tahun sudah aku lalui tawa, tangis, dan segalanya dengan Ardan, sahabatku sejak aku dibangku SMP. Ardan sosok yang periang tak pernah sekalipun aku mendapatinya berkeluh kesah, entah mungkin dia tak mau cerita atau aku yang kurang peka. Sampai detik ini pun aku masih belum bisa menerima kalau dia sudah pergi, secepat ini.

Berangkat sekolah hari ini seperti layaknya hari sebelumnya, aku sama Ardan. kebetulan rumahnya tak jauh dari rumahku, karena inilah berangkat sekolah jadi suatu hal yang paling menyenangkan. Bukan hanya karena aku dapat ilmu, juga karena siapa yang jadi partner setiaku selama ini.

Nggak seperti biasanya, hari ini entah kenapa motorku rewel padahal tak pernah telat ke bengkel. Aku berangkat 15 menit lebih lama dari jam berangkat seharusnya, setibanya di rumah Ardan ternyata dia belum keluar. “dia masih didalam barangkali.” Pikirku. Kubunyikan klakson motorku, sebentar kemudian Ardan keluar barengan sama ibu dan bapaknya.


“Tumben.. orang tuanya kok masih dirumah?” tanyaku dalam hati
“Pagi Dan !” teriakku sambil mengangkat tangan.

Ardan membalas salam dan lambaian tanganku, dia berpamitan dan kemudian ke arahku. Orang tuanya mencium kening Ardan tanda kasih sayang yang mungkin baru pertama kali ini aku lihat, ” ya..mungkin itulah enaknya jadi anak tunggal”tawaku dalam hati. Setelah aku berpamitan dengan orang tua Ardan, Ardan bertanya “Fik,nanti lewat jalan Mutiara ya,itu yang dekat makam”.

“Ngapain Dan?”tanyaku .
“Pengen aja Fik, kan sekarang lagi macet-macetnya jalan depan jadi daripada kita tambah

terlambat, lewat situ aja”Ardan mulai celoteh.
“Iya..iya…siap bos!”candaku.
“Ah bisa aja kamu…”.

Sepanjang perjalanan hanya tertawa dari mulutku yang terdengar akibat lelucon yang tak ada habisnya dari Ardan. Tiba didepan makam pas didepan pintu gerbang, masih dengan gaya lelucon Ardan dia berkata “Fik, kamu gak pesan tempat dulu?’.

“Eh…apaan sih Dan ! kamu kali yang udah pesan tempat” balasku.
“Lho…kamu kok tau? Iya tuh tempatku dibawah pohon sebelah kiri” masih dengan tertawa.
“udah ah. Ngomong yang lain aja” aku coba cari topik.

Hari ini Ardan aneh banget, pandangan matanya kosong, sebentar tertawa trus gak lama dia murung. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? ulangan kemarin? Ah gak biasanya seorang Ardan murung seperti ini.

“Dan nanti kamu yang nyetir ya, aku pengen sekali-sekali duduk belakang, Ok!” pintaku saat
jam sekolah usai.
“em…iya deh…” Ardan mengiyakan sambil tangannya menggenggam sesuatu.
“Fik, nih kalungku pake aja, nanti kalau aku yang pake kamu gak ada kenang-kenangan dong dari aku. Kamu kan suka sama kalung itu jadi pake aja. Itung-itung pemberian terakhirku” kata Ardan sembari menyodorkan kalung putih berliontin persegi enam dengan inisial “AF”, entah apa artinya tapi memang sesuai dengan namaku dan Ardan.

“Pemberian terakhir? Apa maksudnya?” tanyaku heran.
“Udah pake aja” balasnya sambil tersenyum dan mulai jalankan motor .


pikiranku udah kemana-mana. Baru sebentar motor melaju dijalan raya sebuah truk dari arah depan menabrak kami engan kecepatan tinggi “BRAKK…!” suara itu memekakkan telingaku. Suara itu bersamaan dengan jeritan kami berdua dan tubuhku yang serasa terhempas. Hanya itu yang aku ingat sampai pada akhirnya mataku terbuka dan aku sadar aku belum mati.

***

“Fik, kamu sudah sadar?” Suara lembut yang sudah tidak asing di telingaku “Ibu…ada ibu disini?” aku coba memutar bola mataku. Perempuan dengan mata sembab berkerudung putih yang tak lain adalah ibuku berdiri tepat di sebelah kiri, warna bajunya menyatu dengan sekeliling yang serba putih.

“Bu, aku dimana?’ tanyaku dengan suara seadanya.
“Kamu di rumah sakit Fik, pulang sekolah tadi kamu kecelakaan” jawab ibu.
“Ardan? Dimana dia? Dia gak papa kan bu?” aku teringat Ardan. Ibu terdiam sejenak.
Meneteskan air mata di pipinya yang mulai keriput.
“Dia gak papa Fik. Udah, kamu jangan mikir macem-macem”.
“Ibu gak bohong kan?” tanyaku sambil memaksa, tak terasa mataku menangis, meneteskan
tetes kesedihan yang mendalam.
“Ibu, Ardan kenapa bu? Katakan yang sebenarnya bu!” tangisku semakin tak tertahan, ibu tak
dapat menjawabnya. Kemudian, bapak Ardan masuk “Sudah Fik, kamu tenang dulu. Ardan
baik-baik saja” jawabnya dengan wajah seperti berbohong.

Aku tahu mereka bohong, aku dapat merasakan kalau Ardan kesakitan. Kenapa? Kenapa mereke berbohong? tangisku di dalam hati semakin tak karuan campur aduk dengan kekhawatiranku. Ku coba bangkitkan tubuhku tapi kepalaku terasa berat. Kakiku serasa mati begitupun kepalaku seperti terbentur tiang listrik. Sakit sekali.

“Fik,kata dokter kamu gak boleh bergerak dulu” ibu melarangku.
“Gak bu, aku mau lihat Ardan. Ini salahku, aku yang salah salah bu” tangisku seperti tak
berujung.
“sudah Fik, tenang. Tenangkan dirimu dulu” ibu mengelus kepalaku dengan mata berkaca-
kaca.
“Tapi Ardan gimana bu?” sahutku lagi.

Ibu coba tenangkan aku. Pelan-pelan ibu berkata bahwa Ardan ada di ruang ICU dia sedang menjalani perawatan intensif dan dalam keadaan kritis. Mendengar hal itu aku menangis semakin menjadi smpai pada akhirnya aku terlelep imbas obat penenang yang masuk di tubuhku.

***

Setelah tiga hari aku dirawat, aku dibolehkan pulang. Kakiku masih cedera jadi masih butuh penopang untuk berjalan. Tadi pagi bapak Ardan telepon dan mengatakan kalau Ardan siuman sebentar dan sempat bertanya tentang keadaanku, kalau sudah baik aku ditunggu di kamarnya nanti malam.

Aku gak tahu apa yang diinginkan Ardan. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Telepon rumah berdering, ibuku yang mengangkat. Pembicaraannya serius, terlihat dari alis ibu yang terangkat dan mata ibu yang mulai penuh dengan air mata.

“Siapa bu?” tanyaku sembari tertatih kearah ibu. Wajah ibu memuram, tertunduk dan
menangis.
“Bu, ada apa?” aku semakin curiga.
“Fik…” ibu mulai bicara dengan isakan kecil.
“Kamu tenang dulu ya Fik, duduk” ibu menarik tubuhku ke kursi di depannya.
“Fik, barusan ibu dapat kabar. Nyawa Ardan tidak tertolong” lanjut ibu.

Serasa guntur menyambar tepat dimukaku. Aku menangis sejadi-jadinya dan berteriak “Ini salahku, ini salahku bu. Aku yang telah membunuh Ardan, Aku yang salah bu…..!”.

“Fik …tenang dulu” ibu memegangku erat . ibu tahu aku masih labil.
“Nggak bu, aku pembunuh. Kalau saja aku gak menyuruh Ardan menyetir waktu itu dia gak akan seperti ini. Kalau saja aku peka dengan tanda-tanda yang aneh dari Ardan pasti dia gak akan secepat ini dipanggil. Aku pembunuh, pembunuh bu…!” aku menggila, tetap dengan tangis tak terkendali. Sembari sesekali terlintas perilaku aneh Ardan hari itu.

“Fik..semua itu sudah diatur sama yang diatas. Kita hanya sebagai pemain yang harus memainkan peran yang diberikan sesuai dengan skenario hidup. Ini hanya masalah waktu dan caranya. Kita semua juga akan dipanggil, mungkin takdir Ardan memang digariskan melelui kecelakaan ini. Ini sudah diatur, tidak ada orang yang jadi pembunuh kalau memang sudah takdirnya. Fik,ingat kamu dan Ardan lima tahun bersahabat, kalian tentunya bisa melanjutkan persahabatan kalian mungkin dengan cara kamu ikhlas, rela, dan mewujudkan apa yang kalian cita-citakan” ibuku mencoba menghibur.

Setelah beberapa saat, aku mulai tenang sedikit aku berhasil menghilangkan perasaan bersalah, aku coba ikhlas. Mungkin dengan ini Ardan bisa tersenyum disana dan bisa tenang menuju kehidupan selanjutnya.

Tepat pukul 1 siang aku, ibu, dan ayah kerumah Ardan untuk melayat. Ibu Ardan terlihat tenang walaupun aku tahu beliau terguncang. Aku harus melihat sahabat terbaikku untuk terakhir kali. Aku tak kuat menahan kesedihan.

Aku menangis didekat jenazah Ardan, aku dekatkan diriku dan aku berbisik”Dan, maafin aku. Aku janji akan jaga persahabatan kita. Selamat jalan Dan” aku memanjatkan doa untuk mengantar kepergiannya.

Seperti yang aku lihat hari itu, kedua orang tua Ardan mencium keningnya saat pergi kesekolah yang tak biasa buatku. Juga dengan kata-katanya “….itung-itung pemberian terakhirku…” semua itu adalah tanda dia berpamitan ke aku.

Ardan dimakamkan tepat ditempat yang dikatakannya hari tu. Setelah itu aku ingat pesan terakhir Ardan, aku di tunggu dikamar dia. Sesampainya dikamar yang mulai saat ini akan selalu sepi, secarik kertas terselip dibawah lampu belajar dengan tulisan “Fik, besok aku akan pergi, mungkin aku akan lama, tolong jaga benda itu sebagai tanda persahabatan kita’ tulisan itu sepertinya sudah lama dan tertanggal tepat hari kejadian itu.

Aku meneteskan sisa air mataku, ku genggam kalung pemberiannya. Aku berjanji akan jaga kalung ini sampai kapanpun. Aku tersadar saat tetes air mataku membasahi tanganku, aku masih duduk dibawah pohon depan rumah ardan.

“Fik, masa depanmu masih panjang. Aku bahagia jika kaupun bahagia”
Antara nyata dan tidak “Itu suara Ardan” pikirku. Sesaat kemudian aku sadar dia sudah tiada. Aku harus bangkit, mungkin dia ada didekatku. Aku yakin. Aku harus kuat meneruskan perjuangannya menuju cita-cita menjaga persahabatan ini. Satu tiada bukan berarti musnah persahabatan, tapi ini proses menuju persahabatan sebenarnya.

“Terima kasih sahabat, kau selalu disampingku dan membantuku kuat dalam keadaan apapun” ini kalimat terakhir di surat Ardan, aku tau Ardan tersenyum jika aku tersenyum.



Aksi

Information

3 responses

24 12 2007
gempur

Ikut berduka cita ya mas! jadi terharu lagi.. aroma hujan sangat menusuk!

24 12 2007
Sawali Tuhusetya

Cerpen pada hakikatnya *halah sok tahu yak* adalah menafsirkan hiduo dan kehidupan manusia melalui kepekaan itnuitif dan batin sang pengarang. Cerita ini cukup bagus dengan penggarapan konflik batin yang bagus. Jelas, menunjukkan bahwa sang penulis memiliki “talenta” sebagai penulis sekaligus pencerita yang baik. Selamat berkarya dan berkreativitas. Menulsi sangat ditentukan oleh faktor kebiasaan berlatih. Gimana? Setuju, nggak, hehehehehe😆

26 12 2007
djagung

@gempur : wah hujan aromanya apa ya??
@sawali : setuju pak, terimakasih pendapatnya. saya akan berlatih sesuai saran bapak.🙂 hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: