Senandung perubahan musim

9 01 2008

…..

Daun merasa hidupnya tak akan lama lagi. Setelah sekitar 4 bulan dia terlahir bersamaan dengan saudara-saudara identiknya yang awalnya hanya sebesar kotoran burung. sekarang sang daun yang merasa dirinya yang akan mati duluan tampak bersedih. hari-hari sang daun tampak begitu membosankan, hawa kematian selalu melingkupi tempatnya melekat, yah sebatang pohon yang sudah rapuh. mungkin akan roboh jika hujan angin datang siang ini.

Tak tampak sedikitpun bias warna cahaya sang raja siang, mungkin terlalu bosan menemani sang daun menanti kematiannya ataukah sang raja siang tak tega melihat sang daun menyentuh bumi.entahlah yang jelas saat ini serasa bumi dilanda kesedihan, masih terisak bahkan sepertinya akan menangis. sebentar lagi….

Daun yang awalnya tampak hijau cerah rautnya, sekarang berganti dengan raut putus asa dan tanpa harapan. atap dimana daun bersandar sudah mulai rapuh, mungkin sebentar lagi tak kan mampu lagi menahan tangis kematian. BLAAARRR!@!!! atap mulai tak kuasa menahan amarah kebosanan. dihentakkannya segala macam bentuk emosi untuk puaskan dirinya mengantar sang daun. sampai pada akhirnya tangis berjatuhan… tetes pertama mengena di punggung daun yang sudah melepuh. tubuhnya masih bertahan pada batang rapuh. tetes berikutnya mulai tak tertahan.. ditambah deru angin yang semakin menyerang membuat daun serasa dia tak akan tertolong. dia akan jatuh dan terbawa arus ke muara sungai hingga akhirnya terbenam di dasar samudra.

BLAAARRRR!! hentakan atap terakhir yang sempat dirasa mengena ke tangkai tempatnya melekat. daun tak merasa lepaskan pegangan pada batangnya tetapi entah mengapa dia terjatuh dan arus membawanya sampai dia tak sadarkan diri.

tetes2 air membangunkan daun yang nerasa kedinginan. dia berada di sebuah kubangan luas , tidak sendiri melainkan dengan daun2 yang senasib dengannya. dia hanya pasrah mengikuti arus, sampai pada akhirnya dia bertanya pada batang. “mengapa aku bisa sampai disini?” batang hanya menjawab”maafkan aku, aku hanya ingin patahkan diri agar aku bisa tetap hidup dengan sisa batang dibumiku”.

Sejenak daun berfikir,, mengapa batang melakukan ini?/ apa dia tak peduli dengan daun? ataukah dia tak mau dirinya tetap hidup??

“tenang saja daun, sekarang lihatlah kearah bukit itu (sambil menunjuk tempat dimana dulunya dia tumbuh) kau lihat itu, lihatlah aku terlihat lebih kuat jika sebesar itu. aku yakin tak akan ada sesuatu apapun yang bisa merobohkan aku. dan sebentar lagi kau juga akan lihat penerusmu yang berjiwa baru telah siap menyambut musim selanjutnya (semi)”

mendengar hal itu, daun tersenyum dan menghela nafas. Ternyata dia salah, mati bukan berarti akhir dari dirinya, tapi awal untuk contoh penerusnya. pasti ada yang dikorbankan untuk sebuah perubahan. egois tak akan pernah bisa ajarkan penerus kita sesuatu yang kuatkan mereka.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: