W830i tinggal kenangan, pantai kuta penuh copet…

30 05 2008

20mei08-Waktu itu pukul 17.30 WITA. Tepatnya saat aku dan gie menunggu datangnya “ shuttle bus “ yang akan mengantar kami kembali ke central parkir. Tentunya bukan hanya kami berdua saja, sudah begitu banyak orang yang menunggu kedatang barang satu buah shuttle bus. 15 menit menunggu ternyata membuat para penumpang tak sabaran hingga saat satu buah shuttle bus dating serentak semua orang (termasuk aku dan gie ) berlari mengejar bus tsb. Bukan hanya tidak sabar tetapi juga takut kalau-kalau ini adalah shuttle bus terakhir. Jika ini benar maka tak ada jalan lain untuk tidak berebutan naik shuttle bus ini. Seperti sebuah demo, serentak berlarian mengejar satu buah shuttle yang mungkin hanya bisa memuat kurang lebih hanya 20 orang saja, sedangkan yang berebut lebih dari 100 orang. Tentu bisa dibayangkan betapa susahnya kembali ke central parkir saat petang hari.

Aku dan gie berlari mendekati shuttle itu, tak peduli siapa di samping kami yang penting kami bisa naik dan dapat kembali tepat waktu. Gie melompat masuk lewat pintu samping dengan tanpa membuka terlebih dahulu, karena didalam bus sudah di penuhi orang2.kemudian aku menyusul dengan cara yang sama. Fuuuihhh. Akhirnya aku bisa duduk di dalam bus terakhir itu. Entah aku tak memikirkan apaun, yang penting aku sudah di dalam. Tempat duduk di belakang yang semestinya hanya bisa dipakai untuk 5 orang saja, ternyata dipaksakan untuk 8 orang. Berdesakan tentu saja, tapi tak apalah. Lega rasanya… aku menghela napas kecil. Gie duduk di samping kiri bus sedangkan aku berdesakan di sebelah kanan. Baru saja aku sandarkan tubuhku yang lelah, sesuatu terjadi…

“ je hape ku di kamu ta?” gie berkata sembari tangannya merogoh tempat hape yang ada di celananya.

“ hape ? kapan aku pinjemnya? “ spontan aku kaget, karena memang sedari kami lari tadi aku tak pegang barang sedikitpun hape dia.

( masih mencari hapenya) “ je, hape ku gak ada, hapeku ilang je. Kamu tau gak ??!! “

“ kamu taruh mana gie? “

“ aku taruh tempatnya sini, tadi masih ada kok, ayo je turun. Kita cari !!!” spontan aja aku melompat keluar dari shuttle, pikiran kami hanya tertuju untuk mencari hape itu, terserah jika kami tak bisa pulang.

Kami mulai menelusuri jalanan waktu awal kami lari tadi, sepanjang jalan itupun tak ada barang sekelebatpun hape gie (SE W830i). Pencarian masih tetap dilanjutkan. Saat itu aku mencoba menghubungi no hape gie, nada tersambung masih terdengar sesaat kemudian seperti ada yang memutus. Aku coba lagi ternyata sudah tak aktif. Itulah saat kami menghentikan pencarian. Gie Cuma bisa merelakan tanpa menyesalinya. Kami duduk di trotoar kuta, hening. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Sesaat kemudian riuh terdengar di sebelah kami, ternyata ada yag kehilangan hape lagi. 2 kali sudah ini terjadi, ada seorang polisi yang mencoba menggeledah satu persatu penumpang shuttle tetapi tak ada hasil.

Kuta sudah semakin larut, kami berdua hanya terdiam saat kembali menuju central parkir bersama guru2 yang kebetulan masih ada di kuta. Baik polisi maupun guru2 tak bisa berbuat banyak. Ya sudahlah mungkin memang nasibnya gie….

Tiba di central parkir acara masih berlanjut, kebetulan saat itu kami menjadi wakil kelas untuk spontanitas. Awalnya tak jadi tampil, khawatir gie masih shock. Tetapi tak begitu kenyataannya. Gie tetap bisa tampil tanpa ada sedikitpun kesalahan. Entah apa yang membuat gie benar-benar tegar. Seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Hari berikutnya gie masih tetap ceria, tanpa merasa kehilangan suatu apapun. Mungkin dia udah ikhlas. Yang masih aku pikirkan, mengapa bali yang dulu dikenal sebagai pulau yang jarang kriminalitas, sekarang malah seperti ini. Apakah pelakunya bukan orang bali? Atau emang ydah ada jaringan pencopet di kuta sampai-sampai 2 kejadian terjadi dalam waktu yang sama. Dan mengapa juga sangat sulit untuk mencari kendaraan dari kuta menuju central parkir, apakah pemerintah bali sudah berencana menambah armada bus untuk memenuhi kebutuhan. Ataukan masih tetap seperti ini, hal-hal yang sebenarnya tak perlu terjadi. Entahlah….

Bali yang dulu ceritanya walaupun kita menaruh motor 100 meter jauh dari kita, tak ada satupun tangan-tangan jahil yang berani mengambilnya. Tapi sekarang, hape yang rapi ada di tempatnya pun bisa hilang. Sungguh keadaan yang memprihatinkan. Padahal di hape itu tersimpan berjuta kenangan saat sma termasuk di bali ini. Tapi apa daya semuanya sudah terjadi.

Satu kalimat yang masih saya ingat dari gie..

“ alhamdulillah.. Cuma hapeku yang hilang, bukan nyawaku. “

Kalimat itu yang sungguh tak mungkin bisa aku katakan jika aku ada di posisinya. Salut untuk sahabatku gie… Tuhan punya pengganti hape untukmu yang pastinya lebih baik dari hape ini. Amin

Keep smile and positive thinking. Kamu tak sendiri.


Aksi

Information

5 responses

30 05 2008
gii3

wew…. segitunya Boz…
sampek diposting segala.
kayaknya terlalu berlebihan dech…
but Tx ya

31 05 2008
djagung

@ gii3
ya gak papalah , namanya juga musibah. biar yang lain pada bisa ambil pelajarannya

2 06 2008
gempur

kuta memang layak di bom… pelecahan seksusal juga banyak terjadi di kalangan turis domestik yang dianggap sebelah mata oleh mereka… turis asing lebih berharga ketimbang turis domestik… sialan dan kurang ajar… merasa TAMU

2 06 2008
gempur

lanjutan atasnya:

merasa mejadi TAMU dan ASING di negeri sendiri…

2 06 2008
gempur

insya Allah akan medpaat ganti yang lebih baik lagi… sabar dje..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: