Dan Mimpi Itu adalah Kita

20 07 2011

Kala itu, ya. Tepatnya beberapa hari yang lalu, setelah menanti. Terjawab sudah sebuah keinginan untuk menemukan sosok nyata dalam tubuh dan raga teman mayaku. Kita memang sama-sama tak mengenal (awalnya), bahkan untuk sekedar menyapa lewat sms pun adalah hal yang tabu, hanya jika ada keperluan penting saja kita berkeluh lewat layer monokrom. Sekarang kita bertemu dalam dunia nyata.

 

***

Tiga bulan lalu, mengenal sosokmu dalam sebuah kisah karyamu yang di publish dalam bingkai biru dunia maya. Masih belum mengenalmu, bahkan menyadari bahwa dalam beberapa kali persaingan kau adalah musuh terberat.

 

Suggest friend dari seorang kawan membawaku pada wall facebooknya. Menyapa dengan sedikit keraguan, karena biasanya seorang penulis yang sedikit tenar susah untuk berteman apalagi membagi kisah dan pengalamannya selama ini. Tak begitu dengannya, sosok yang sering menyebut dirinya pujangga keren pada setiap akhir kalimat pesan singkat yang aku terima membuatku membuka mata bahwa memang seseorang tak akan bias mencari teman baik jika tak memulainya sekarang. Perlahan bait-bait kalimat puitis mengantarku pada kedekatan persahabatan yang semakin karib, membawa tiap-tiap kisah perjuangannya menelusup pada sela-sela kisah hidupku, merembeskan tiap keluhnya pada alir suka citaku berharap dapat saling melengkapi satu sama lain.

Kau pernah berucap bahwa “ semua akan lebih terasa bila kita akan meninggalkannya “. Ketahuilah kawan, selama aku mampu dan selama masih ada nafas dikandung badan, meninggalkanmu dalam kisah hidup yang sedang kau tapaki dengan serakan mimpi yang tak sempat kau pungut, tak akan pernah kulakukan.begitupun dengan karibku yang lain. Karena inilah sebuah ikatan persaudaraan, dalam agama pun dijelaskan bahwa tiap muslim adalah saudara jadi ketahuilah bahwa tiap kau lontarkan kalimat penyemangat untukku sama artinya kau telah memaku lebih dalam lagi persahabatan yang masih bias dihitung dengan jari ini, semuanya terasa seperti angina di siang hari, membawa sedikit desir debu walaupun menyesakkan tapi tetap menyejukkan.

 

Perjalanan hidupmu denganku hampir sama. Memiliki mimpi yang sampai detik tulisan ini dibuat masih membara dalam semangat masing-masing : kuliah. Mimpi yang akan sempurna jika kita sama-sama menggenggamnya dalam keyakinan, sama-sama memfokuskan diri bahwa yakin akan ada rencana lain yang lebih indah jika dengan sangat terpaksa mimpi itu tak terwujud. Jangan menangis kawan, tetaplah melangkah, karena Allah telah menyediakan jalan yang benderang untukmu menuju mimpi. Mimpi yang pernah kau sematkan dalam obrolan maya kita yang semrawut. Aku hanya ingi jadi sang pemimpi karya Andrea Hirata bukan hanya seekor kambing jantan karya Raditya Dika.

 

Kali ini hidupmu menghampiriku. Kita sama-samamerajut benang mimpi yang sama. Meskipun cara kita berbeda, karena bukanlah aku yang menyambung hidupmu saat kau putuskan untuk mundur dari arena perangmu beberapa waktu lalu, bukan juga aku yang membuatmu merasa beruntung mendapatkan pekerjaan itu. Bersyukurlah pada-Nya, kawan. Sesungguhnya keteguhan dan keyakinanmu akan mimpi menjadi penulis dan mimpimu menggapai ilmu sampai ke tingkat tertinggi adalah nyata dan akan segera terwujud sebentar lagi.

 

Tataplah ke depan, karena mimpi yang akan kau jemput bukan sebaliknya. Jangan menoleh ke belakang, masa lalu hanyalah pembelajaran yang hanya sesekali kau tengok agar tak terjatuh lagi. Lanjutkan mimpimu kawan, aku masih di belakangmu. Jangan hiraukan apa yang terjadi denganku karena setiap apa yang kau lakukan adalah karena usahamu, bukan karenaku. Aku hanya ingin membuat arti di setiap hariku. Hanya ingin menemanimu menjemput mimpi, sehingga suatu saat aku akan menjemput mimpiku dengan atau tanpamu.

 

Jagalah tiap-tiap harimu, tiap-ucapmu, tiap waktu sholatmu,lalai hanya sesekali untuk kemudian kembali lanjutkan mimpi. Aku selalu mendukungmu di persahabatan kita yang terhitung jari ini. Setia membaca helai demi helai karyamu, mengucurkan semangat menggelora untukmu, menengadahkan pikiran dalam tiap imaji yang nantinya akan kau tuang dalam sebuah prasasti aksara.

 

Karena itulah aku disini, kau disini. Karena mimpi kita sama. Lakukan yang terbaik sahabatku ! Rofiq Hasansah (Akhmad Hasan Arofid). Semoga mimpimu membawa kita pada tujuan masing-masing, dan mimpi itu adalah kita.

 

 

 

 

Surabaya16 juli 2011

 

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: