Goa Sambiyan – Wisata petualangan tersembunyi Sampang

13 01 2013

 

Sabtu, 25 Desember 2012. 

Mentari belum juga muncul di ufuk timur. Namun aroma pagi yang sejuk sudah mulai tercium oleh kedua lubang hidungku. Sejak pagi seusai shalat Subuh aku dan para sahabatku sibuk bersiap diri untuk melakukan pendakian di sekitar desa Pangilen, Sampang. Tepatnya di bukit Sambiyan yang jaraknya cukup jauh dari kediaman sahabat bernama Fitroh. Kebetulan pada hari itu aku kedatangan tamu dari kota Surabaya dan Mojokerto. Mereka berkunjung ke Sampang hanya untuk menyambung silaturahmi dan liburan. Sebagai tuan rumah, aku memang bahagia atas kedatangan mereka. Jauh-jauh datang ke kampungku telah membuktikan bahwa mereka gemar sekali bersahabat. Aku ingin memperkenalkan Sampang lebih jauh pada mereka, karena di Sampang banyak juga tempat-tempat indah yang belum terekspose oleh media.

Sehari sebelum tanggal 25 Desember 2012 tiba, aku memang telah mengajak tamuku berkunjung ke desa Camplong. Disana kami melihat sepanjang pantai dan laut Camplong dari atas bukit yang bersebelahan dengan tebing. Jika menghadap ke selatan, hamparan lautan tersuguh indah. Kilauan cahaya matahari yang memantul di permukaan laut seakan-akan menyerupai ribuan permata berlian. Sesekali di tengah hamparan permata dan berlian itu, berdirilah beberapa kapal besar pembawa minyak tanah mentah. Di tempat kami berdiri, kapal-kapal dan perahu itu tampak terlihat seperti kapal mainan saja. Tak lepas mata kami memandang alam sempurna Maha Karya Ilahi tersebut. Walaupun dalam cuaca yang membuat tubuh kami lumayan kegerahan.

Jika kami menghadap ke Utara, maka tesuguhlah tebing-tebing curam nan eksotik. Kami menyebut tebing itu sebagai Grand Canyonnya Camplong (hahaha sebenarnya gak mirip sih). Batu kapur yang telah membentuk tebing-tebing terjal itu benar-benar eksotik dalam pandangan kami. Sekeras kami berteriak, suara pun memantul membahana. Cuaca siang yang cukup panas tak menghalangi kekaguman kami akan lukisan alam yang disuguhkan Tuhan. Awal sebuah liburan yang indah.

Dan pagi ini, tepat di tanggal 25 Desember 2012 kami akan melakukan petualangan mendaki gunung di desa Pangilen Sampang untuk melihat gua. Pukul enam pagi kami berjalan ke arah Utara sejauh kurang lebih 400 meter. Awal perjalanan itu membuatku penasaran seperti apakah gua yang akan kami tuju itu? Benarkah rupa yang akan ditunjukkan seindah cerita masyarakat sekitar? Oh, pikiranku pun dipenuhi pertanyaan-pertanyaan semu.

“Perjalanan kita akan jadi petualangan seru tak akan terlupakan seperti dalam novel 5cm !!” Seru Fitroh yang berjalan paling depan. Fitroh adalah satu-satunya pemuda di antara kami yang mengetahui arah jalan menuju gua Sambiyan.

Setelah berjalan sejauh 400 meter, kami belok kanan memasuki sebuah jalan setapak. Dan dari jalan ini berbagai rintangan akan kami mulai. Pertama, kami harus melewati jalan berlumpur yang begitu sempit. Kedua, tantangan yang harus kami lewati cukup membuat jantungku sejenak memberontak. Bayangkan saja, kami harus melewati jembatan gantung yang menurut kami tidak layak pakai. Jembatan itu memiliki panjang kurang lebih enam puluh meter dengan lebar jembatan cuma satu setengah meter. Jembatan itu beralaskan bambu dan hanya digantungkan pada tali. Memang tampak kuat, namun jika dilewati pasti jembatan itu bergerak sekaligus menimbulkan bunyi. Terlebih ketika aku berdiri di bagian tengah jembatan, Fitroh terus menggoyang-goyangkan jembatan dengan sedikit melompat. Kami semua pun berteriak histeris. Ketakutan.

Turun dari jembatan gantung, kami disuguhkan oleh kawasan hutan. Sebelum menerobos hutan, kami memperhatikan seorang nenek perkasa yang tengah menyeberang jembatan. Aku tak habis pikir mengapa nenek itu melangkah dengan tenang padahal ia tengah membawa tumpukan kayu bakar di atas kepalanya? Tidakkan ia merasa merinding seperti yang kurasakan? Ah, rupanya nenek itu bisa melewati jembatan tanpa ada halangan. Aku salut melihat perempuan usia senja itu. Tapi tetap saja aku tak akan seperkasa nenek itu jika dihadapkan dengan jembatan gantung.(Huffttt…) 

Hutan! Itulah yang harus kami lalui. Berbagai tanaman tumbuh disana, ada bambu, pohon jati, dan tanaman herbal pun menjadi aneka pelengkap di hutan yang kami lewati. Tubuhku terasa sejuk mendengar aliran air sungai yang menderas. Langkahku pun masih dapat kuayunkan dengan ringan, tak ada tanda-tanda kelelahan yang menyapa.

“Duh, kacong…! Daripada jalan-jalan, mending menikah sajalah!” Komentar seorang ibu yang tengah menanam padi di sawah miliknya. Kami tersenyum menimpali ucapan ibu bercaping itu.

Ya, setelah keluar dari hutan memang kami disuguhi oleh persawahan. Persawahan yang menghijau itu memberikan pengalaman baru bagi kami, terutama bagi sahabat yang datang dari Surabaya. Apalagi saat ada puluhan bangau yang beterbangan melewati langit persawahan, membuat para sahabatku takjub menyaksikan alam yang masih alami belum tersentuh kemodernan.

Jalan setapak telah kami lewati, jembatan gantung, hutan, persawahan pun telah menyapa kami. Kini kami memasuki area pegunungan. Awal pendakian memang tak ada cobaan. Namun, beberapa menit kemudian timbul berbagai peristiwa. Tanah bebatuan yang dikelilingi pohon jati membuat sandal kananku terputus. Setiap pohon jati yang kami lewati berubah menurunkan tentaranya menyambut kedatangan kami. Puluhan ulat bergantungan menerpa perjalanan kami. Ya, banyak sekali ulat pohon jati yang bergelantungan! Ada beberapa orang di antara kami yang geli melihat puluhan ulat kecil yang meliuk-liuk di kepala, tas, dan sekitar kami.

“Lelaki kok takut sama ulat. Hahahaha,,,” celetuk salah satu di antara kami.

“Bukan takut, tapi geli liatnya,” kata pemuda lain membela diri.

“Hei, siapa yang sudah baca novel 5cm karya Dhony Dhirgantoro? Inilah 5cm versi kita,” kata Fitroh.

“Ini sih bukan lima senti, tapi lima kilometer!” Sahut Januar yang tampak kesal karena kelelahan. Kembali suara tawa menghiasi perjalanan kami.

Untuk mencapai gua Sambiyan memang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam-an (kalau nggak salah sih, hehehe). Tak heran jika teman-temanku kelelahan berjalan selama itu, terlebih banyaknya rintangan yang harus kami hadapi. Namun karena adanya canda dan tawa membuat dua jam terasa hanya tiga puluh menit saja. Dan inilah saatnya tiba di bibir gua.

Gua Sambiyan benar-benar gelap total. Tiga senter yang melilit di kepala Rofiq, Fitroh, dan Salam pun tak cukup menerangi gua yang dihuni puluhan kelelawar itu. Saat berada di bibir gua aku sempat merinding melihat keadaan di dalam gua yang sedikit pengap nan gelap. Pun setelah melihat kelelawar beterbangan di atap gua. Langkahku pun kuusahakan tenang.

“Jauh-jauh berjalan kok nggak mau masuk sih, kan rugi. Apalagi ini pertama kali aku masuk ke gua. Duh rugi, benar-benar rugi!” Pikirku dalam hati.

Ternyata ketakutanku pelan-pelan memudar. Aku terpesona melihat keindahan yang tercipta di dalam gua. Stalaktit dan stalakmit yang ada membuatku kagum di dalam kegelapan. Apalagi setelah mendapati tetesan air alam yang dingin dari stalaktit, semakin tak sabar tangan kananku menengadah menangkap tetes demi tetas air itu. Tak lupa kami berfoto bersama dalam gua tersebut.

Fitroh mengajak kami memasuki gua lebih jauh lagi. Yang kutahu, ada empat ruangan gua berukuran sedang (nggak tau kalau lebih). Aku memasuki ruangan gua ketiga. Untuk mencapai ruangan ketiga ini, kami harus menaiki bebatuan yang cukup licin. Sesuatu yang luar biasa kami dapatkan setelah berdiri di ruangan gua ketiga. Keeksotisan gua semakin terlihat jelas dari ruangan itu. Celah lubang dari atas yang memantulkan cahaya membuat lekuk-lekuk gua terlihat indah. Dinding gua pun tampak mengkilap karena air yang membasahinya. Tak ada kata-kata indah yang mampu kuungkapkan selain “WOW“.

“Eh, hari Sabtu besok kalian ke Surabaya ya. Nanti aku traktir nonton film lima sentimeter deh. Biar dapet feelnya. Mau nggak?” kata Januar di tengah-tengah istirahat kami dalam gua.

Sontak aku, Fitroh, Anas, dan Lian menoleh ke arah Januar. Tanpa babibu kami langsung menganggukkan kepala tanda setuju.

“Ya, sekalian kita mau tahun baruan disana,” kataku.

“Sip. Di ACC ya rencana ini,” Fitroh bersuara.

“Skripsi kale pake ACC segala, hahahaha…” sergah lian sembari tertawa. Kami semua ikut tertawa bahagia.

(bersambung) 
***

tulisan di copy paste dari blog sahabat saya Aswary Agansya disini

Tentang PenulisAswary Agansya lulusan Universitas Madura (UNIRA) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemuda kelahiran kota Surabaya, pada 4 Oktober ini gemar sekali membaca dan menulis. Karya-karya Aswary yang pernah diterbitkan adalah novel Imagination of Love (LeutikaPRIO, 2011), novel Menari di Atas Tangan (LeutikaPRIO, 2011), antologi bersama Be Strong Indonesia #3 (writers4indonesia, 2010), antologi Curhat Cinta Colongan #3 (nulisbuku.com, 2011), antologi E-Love Story #21 (nulisbuku.com, 2011), antologi Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (nulisbuku.com, 2011), antologi Dear Someone (nulisbuku.com, 2011), antologi Selaksa Makna Ramadhan (LeutikaPRIO, 2011), antologi Long Distance Friendship (LeutikaPRIO, 2011), LDR (Goresan Pena Publishing, 2012), Pancaran hati Bunda (Goresan Pena Publishing, 2012). Aswary juga pernah mendapat juara 3 dalam Sayembara Cipta Cerpen UNIRA 2011. Jika ingin berinteraksi, bisa menghubunginya di email: aswary.agansya@gmail.com sertawww.aswarysampang.blogspot.com


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: