AOLENK , Kisah para lelaki pecinta negeri

31 10 2014
Aolenk, laskar lelaki

Aolenk, kisah para lelaki pecinta negeri

Seorang Kahlil Gibran pun pernah bersajak mengenai persahabatan. Dalam penggalan salah satu sajaknya, Gibran mengatakan bahwa sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa. Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan rasa terima kasih. Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang, kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian.

Nah, buku kumpulan catatan perjalanan ini, menceritakan tentang persahabatan 4 orang guru muda dan 1 orang desain grafis yang sangat solid. Mereka menceritakan tentang kejadian-kejadian menyenangkan dan juga kejadian gokil yang mereka alami selama melakukan traveling di berbagai tempat. Diantaranya: Lamongan, Surabaya, Bali, Mojokerto, Madura dan Jogjakarta. Sungguh, kisah mereka penuh haru biru dan menyenangkan sekali untuk dibaca.

– LASKAR LELAKI –

 

Seseorang dikatakan bisa menulis dengan baik bukan hanya bisa merangkai huruf per huruf jadi satu kata dan kemudian diselaraskan menjadi sebuah karya dimana memiliki sebuah pesan yang harus tersampaikan kepada pembacanya. Tak hanya berbekal inspirasi dan imajinasi sendiri, belajar dari para senior dan referensi menjadi sebuah tolak ukur bagi para penulis pemula, seperti aku juga. lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitupun denganku. Tak ubahnya seorang bayi yang baru belajar merangkak untuk sesegera mungkin berlari, pasti punya seseorang atau sesuatu yang menginspirasi dan menjadi contoh ideal untuk belajar lebih cepat. Inilah yang menginspirasiku….

 

***

Penulis, menulis, menuangkan ide dan pemikiran lewat tulisan memang bukan impianku. Bukan juga sebagai hobi yang mungkin aku geluti selama ini. Setelah beberapa tahun ini sedang berkarya lewat media visual dan grafis yang memang menjadi mata pencaharian dan hobi mutlak bagiku sejak SMA dulu. Ya, dari dulu tak ada keinginan untuk menuangkan semua lewat tulisan. Pernah sesekali mencoba menulis sesuatu yang dianggap ide cemerlang namun hasilnya mengecewakan. Tak semudah menggabungkan titik menjadi garis yang kemudian jadi karya grafis yang indah. Merangkai kata per kata ternyata lebih memusingkan kepala, terlebih dengan aturan tanda baca huruf besar kecil dan blab la bla. Semakin menyurutkan niatku menulis.

 

Jaman SMA dulu pernah sekali mencoba menulis, bukan menulis cerpen atau puisi. Aku memilih menulis novel, terlalu buru-buru memang karena waktu itu novel sedang booming. Apalagi muncul film ayat-ayat cinta yang tak lain diangkat dari sebuah novel, belum lama juga muncul sebuah buku yang berawal dari blog. Kambing jantan, ya, penulisnya Raditya Dika menulis dengan kepolosan dan gayanya sendiri tapi itu bias jadi pundit emas hidupnya. Mengapa tak terpikirkan untukku menulis dengan apa adanya, tak mengikat ke sebuah gaya penulis lain yang hanya membatasi kebebasan berkarya.

 

Memasuki jaman kuliah mulai marak dunia per facebook an dengan segala bentuk komunitas dan perkumpulan penulis. Novelku sebelumnya hanya tulisan tangan di lembaran kertas folio bergaris yang aku rasa lebih mirip laporan keuangan kantor daripada sebuah novel. Bersampul gambar tangan yang notabene hasil karyaku dengan pembaca teman-teman dekat mulai menumbuhkan semangatku untuk menulis dan menulis lagi. Kali ini bukan lagi novel, aku mulai mencoba puisi, cerpen dan kisah-kisah cinta yang semakin ramai dilirik muda mudi Indonesia. Lagi-lagi hanya sebuah keinginan, kebutuhan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak untuk mendukung masa depan menghentikanku menulis. Fokus ke desain adalah jalan utama, karena dari situlah aku bekerja, dari situ juga aku meluapkan apa yang sedang terjadi walaupun tak banyak juga yang menilai aku masih belum mahir. Tapi namanya juga belajar, sekali merengkuh dayung berharap dua sampaui tiga pulau terlampaui. Serakah. Hehehe…

 

3 tahun kemudian pekerjaan dengan bidang yang aku kuasai telah kudapatkan, sekarang apa lagi? Tak ada salahnya kan mencoba aktif menulis lagi. Waktu itu Raditya Dika dan Penulis Ayat-Ayat Cinta mulai menelurkan lagi dan lagi karya bukunya yang wah benar-benar dengan gaya mereka sendiri. Ustad Habiburrahman El Shirazy dengan romansa percintaan islami dan Raditya dengan gaya slengehan ala mahasiswa menjadi daya tarik sendiri untukku mencoba mencari gaya seperti apa untuk acuan menulisku.

 

Rmah keduaku alias blog menjadi tempat sampahku selagi aku ingin menulis, berbagai komunitas penulis dan event lomba mulai aku ikuti. Walnya hanya puisi-puisi yang aku ikutkan ke sebuah komunitas penulis cerpen dan puisi, kemudian.com. di situs ini penulis akan diberikan penilaian dengan poin-poin yang akan menjadi ukuran seberapa renyah tulisan kita dimata pembaca, tak ketinggalan juga dengan komentar sesama penulis untuk lebih memperbaiki tulisanku.

 

Akhirnya dari blog itulah muncul komentar-komentar yang mengarahkan dan menyemangatiku untuk terus menulis dan menulis dengan tidak meninggalkan keahlian utama yaitu desain. Bukankah semua bias diraih asalkan seimbang? Mz Janu, lahirlah nama itu sebagai nama pena yang mulai dari karya pertamaku siap terbit sampai dengan saat ini. Nama pemberian seorang sahabat yang akan selalu aku sematkan di setiap karyaku tak ubahnya sebuah pelengkap penting untuk memperjelas identitas pada setiap gaya berceritaku.

Lambat laun aku mulai belajar secara otodidak, membaca berbagai macam buku dan novel dari para penulis professional menambah cara pandang dan gaya bahasa penulisan pada setiap karyaku. Dengan tetap berpegang dengan gaya penulisan yang ringan dan sedikit dramatisasi pada setiap konflik menambah daya kepekaan berimajinasi. Berkaca kepada Ustadz habiburrahman untuk penciptaan imaji romansa cinta dengan latar islam dan berkaca kepada Raditya Dika untuk bayolan dan gaya pop slengean yang aku sematkan di beberapa karyaku menambah warna di setiap sajian yang aku hadirkan.

 

Berharap nantinya akan jadi penulis besar dengan beberapa hasil karya novel yang di filmkan, atau paling tidak bias menuangkan lewat blog yang kemudian akan dibubukan secara solo seperti Raditya Dika, kalau mereka bias kenapa kita tidak? Bukankah mencoba tak ada salahnya selagi tak ada yang ,merasa disugikan dan tersudutkan dengan karya-karya kita.

 

Aku mulai menemukan kenikmatan menulis dari kacamataku yang dasarnya seorang desainer grafis, untk langkah pemula cukuplah buatku jika karyaku selama ini enak dibaca. Tak muluk-muluk untuk berambisi diterbitkan buku, aku masih awal masih belajar dan masih perlu banyak referensi untuk menyempurnakan hobi baruku ini.

 

Ayo taungkan ide dan imajimu lewat tulisan, karena tulisan itu akan abadi sampai kapanpun. Jika manusia bias lupa atau pikun, maka kertas hanya bias lusuh dan usang tapi apa yang tertulis pada lembar kertas itu akn tetap jadi bacaan dan romansa yang tak akan pernah luntur sepanjang masa selagi kita mau menuangkannya.

 

Menulis, desain dan serakah? Mengapatidak? Selagi seimbang dan untuk memajukan diri. inilah pembuktian diri bersama teman-teman LASKAR LELAKI. buku ini merupakan memoar dari perjalanan gokil kami. sebelum novelku menjajal dunia perbukuan tanah air… ijinkan AOLENK menjadi koleksi baru rak buku anda.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: