Flamboyan Putih – cinta itu bukan untukku

1 11 2014

flamboyan putihflamboyan putih jatuh tepat dipangkuanku hingga aku mengerti bahwa cinta itu bukan untukku

 

Sinar keemasan menyiram jiwanya yang lelah menantikan seorang sosok dambaannya di bawah pohon flamboyan yang mengitari sebuah besi mirip kubah. Taman flamboyan menjadi saksi dimana jiwa yang keruh mendapatkan secercah pinta untuk melamarnya kala itu. Tapi sampai kini dia tak datang.

 

“Sudahlah lupakan saja pertemuan itu. Bukankah kau sudah berjanji pada dirimu untuk menjauh dari kisah seperti ini hingga benar-benar hatimu mantap untuk hal ini?”

 

“Jangan dengarkan apa kata orang, turuti kata hati. Janji adalah hutang. Jangan hanya karena kau terlalu lama menunggu hingga kau sakiti lagi hati seorang yang benar-benar ikhlas mencintaimu.”

 

“Ah, itu omong kosong. Cinta, sayang, kasih. Buka matamu, bukankah hidupmu kali ini hanya butuh uang? Ingatkah kau dengan janjimu bertemu pelanggan hari ini. Sudah kau buang sia-sia waktumu hanya untuk seorang gadis tak penting yang menyelip dan menerobos masuk di hidupmu yang kau tata rapi. Mungkin saja dia hanya mau hartamu. Atau hanya sekedar mempermainkanmu.”

 

“Jangan kataku, kau hanya perlu sedikit berkorban untuk mendapatkannya. Seseorang perlu cinta untuk menyempurnakan hidup. Jangan dengarkan dia. Biarlah, tetapkan hatimu untuk menepati janji melamarnya hari ini. Lihat cincin yang kau bawa serta sederet kalimat puitis yang mati-matian semalam kau rangkai untuk momen sekali seumur hidupmu ini.”

 

Hatiku bergejolak, aku harus mendengar yang mana. Aku sendiri bingung dengan hatiku. Kolot mungkin, tapi itulah aku tak akan pernah mengerti dan dimengerti cinta walaupun dulu aku yang mempermainkan cinta.

***

Semilir angin menggoyah pohon flamboyan merontokkan daun tua yang sedari tadi lemas terkulai dan kali ini gugur setelah mengabdi pada dahan yang menopangnya selama ini. Masih sepi, taman kota dengan bangku kayu dengan aksen warna coklat tua setia menantinya untukku. Detik berlalu tanpa ada yang mengejar hingga aku tersadar berapa lama ku habiskan waktu dengan falmboyan putih untuk menunggunya.

 

Berbalut syal bahan sulam dipadu dengan kemeja dan celana warna senada menambah layu senjaku hari ini. Mentari semakin condong menyinarkan sisa-sisa cahaya emas yang merona. Kelelawarpun bersiap melanglang mencari jalan hidupnya hari ini, tak begitu denganku.masih menanti.

 

“mas, aku hanya ingin mas melamarku sebelum tiba waktunya orang tuaku menjodohkanku,” katanya singkat

 

Sosok wanita berjilbab putih menolehkan pandanganku tentang cinta. Aku yang sebelumnya memandang remeh tentangcinta dan kesungguhan meniti rumah tangga kini mulau terbuka dan ingin membinanya dengan gadis yang 3 tahun ini aku dekati. Suci, gadis itu bernama suci. Sosok wanita sempurna dimataku yang bias menggoyahkan pagar baja antara pekerjaan dan cinta di hidupku kali ini membuatku menanti. Dua bulan lagi dia mau dijodohkan dengan seorang pemuda kenalan bapaknya, mungkin karena memang sedari awal pemuda itu telah masuk di hidupnya lewat keluarganya, jadi tak ada yang salah jika orangtuanya memilih pemuda itu untuk menyandingi putrinya melangkah ke pelaminan. Bukan aku yang tak pernah bersua dengan orangtuanya sekalipun.

 

Semakin memudar rona merah langit di bumbung atasku. Mengarah kelam warnanya, petang. Masih tak datang, flamboyan putih berubah jadi keemasan terkena sinar lampu taman yang baru dinyalakan.

 

Tuuut….tuuut….tuuut….

Klek

Akhirnya telponku untuk yang kesekian kalinya di reject. Apa yang sedang terjadi? Tak tepat janjikah kau padaku? Tanyaku dalam hati. Aku telah memutuskan untuk melamarmu hari ini, siang ini yang kini sudah beranjak malam hingga kau tak datang sekalipun aku akn tetap ingin meminangmu, sampai saatnya nanti kau berkata bahwa kau telah dipinang pemuda itu, maka aku yang mengalah. Bukan ku tak mau memperjuangkan cintaku padamu, tapi sungguh tak akan ada cinta untukku sesuai perkataanku dulu. Sebelum semuanya sesuai harapanku aku tak akan menikmati cinta.

 

***

Pukul 21.00 tepat. Udara semakin dingin menusuk hingga ke tulang. Langit berkedip memancarkan kilat yang menandai bahwa sesegera mungkin akan menumpahkan segala rasa basahnya ke bumi. Aku menunduk, menenggelamkan segala asa dan harapku untuk meminangmu. Semakin larut dalam penyesalan dan semakin terendap dalam kesedihan ku dengar langkah kecil mendekatiku. Ku lihat dari sudut mata bayangan seorang wanita terpampang di paving taman.

 

“maaf lama menunggu, tak bisakah maaf ini kau terima?.” Satu suara mulai meretakkan sepi. Aku menoleh ke belakang masih dengan kelelahan yang amat sangat.

 

“aku menunggu sedari pagi tadi, tidakkah kau ucapkan padaku untuk menemuimu pagi ini? Apa kau lupa?.”

 

“tidak Mas, aku tak akan pernah lupa dengan itu janji untukku menemuimu dan segera mendengarkan lamaranmu. Tapi…” seketika itu Suci menghentikan ucapnya sambil sedikit terisak, kemudian menjatuhkan dirinya di rumput basah yang mulai terintiki air hujan.

“ ada apa? Apa kau sudah dijodohkan? Apa kau sudah menikah? Kenapa?”. Nadku sedikit meninggi. Kugoyangkan tubuhnya sembari sesekali ikut terisak.

 

“ Mas, aku hanya ingin meinta maaf untuk kali ini, untuk janjiku padamu yang mungkin tak berlaku lagi. Untuk tiap ucapanku yang memberi harap padamu. Untuk ucapanku yang telah kau telan hingga bersemi indah dihatimu. Sesungguhnya aku juga tak ingin jadi seperti ini.”

“ apa maksudmu? “ semakin aku tak mengerti yang diucapkannya.

 

Semakin terisak kemudian rin tik hujan menebarkan intensitasnya dan basah menjalar kepermukaan bumi. Masih tak ada jawaban hingga saat ini.

 

“ maafkan aku mas.” Ucapnya sembari berlari menuju mobil hitam yang sedari tadi diparkir di depan taman.

 

“apa maksudnya? Aku tak mengerti? Jelaskan dulu !” seakan tak menghiraukan teriakanku hingga aku tersadar sepatuku menyaruk sesuatu.

 

Secarik kertas warna krem yang terbungkus kertas tebal diluarnya, ku meneduh di bawah rimbunnya atap taman yang diselimuti flamboyan putih. Ini undangan pernikahan, ya ini undangan pernikahan dia dengan pemuda itu. Serasa tergampar untuk kesekian kalinya. Apa maksdunya ini, apakah dia berhianat? Secarik kertas kembali kubuka, kali ini bukan undangan. Tapi ini surat darinya.

 

Assalamualaikum Mas,

Jika telah terbaca surat ini olehmu maka aku tak akan menyisakan setiap perkataanku untuk menyakitimu. Aku tak mengerti apa yang menjadi jalan hidupku. Aku mengasihi mas, menyayangi mas, hingga saat aku di hari terakhir dirumah. Hingga terjadi perjodohan itu diluar dugaan, lebih cepat dari rencana semula. Aku tak bias legi membendung rencana itu, bapakku telah menentukannya. Aku hanya ingin menunjukkan baktiku kepada mereka. Maaf sedalam-dalamnya untuk harapan yang telah aku buat, maaf untuk pertemuan yang tak seharusnya berakhir demikian sakit. Hadirlah dalam pernikahanku tanda kau telah memafkanku. Jadilah seperti pucuk flamboyant disekitarmu, yakinlah bahwa tiap-tiap bunga akan gugur dan bersemi kembali. Maafkan aku telah membuatmu layu. Tapi esok akan ada orang yang akan membuatmu bersemi.

Wasalamualaikum

 

Suci

 

Seakan aku ingin menangis tapi kutak bisa, flamboyan putih jatuh tepat dipangkuanku hingga aku mengerti bahwa cinta itu bukan untukku.

 

 

 

 

 

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: