Yogyakarta, Never Stop Loving You

24 12 2014

Surabaya (21/10), Libur telah tiba Hore… Hore… begitulah kegembiraan adek-adek saya menyambut liburan kali ini. Pun seperti kebanyakan orang, liburan akhir tahun adalah momen paling saya nantikan. bukan hanya umtuk liburan tapi untuk momen saling silaturahmi antar komunitas yang saya ikuti, sebut saja #WongPapat #LaskarLelaki #Fatinistic #DreamDesigner ataupun #DesignerWannabe.

aa

Liburan kali ini kebetulan #WongPapat berencana menghabiskan liburan ke kota sejuta budaya, Yogyakarta. Seperti namanya komunitas ini beranggotakan 4 orang, Dimas, Paul, Laila dan tentu saja Saya. Tahun lalu memang kami sudah berlibur kesini tapi beda tujuan. Untuk liburan kai ini dengan estimasi 3 hari 2 malam dan menggunakan kereta api ekonomi. Tiket kereta sudah kami pesan 2 bulan sebelumnya karena takut kehabisan, untuk hotel kami pesan 2 minggu sebelumnya. selama 2 bulan itu kami menyusun rencana tujuan dan estimasi waktu juga estimasi biaya. awalnya kami ingin mengunjungi pantai baron dan indrayanti yang berada di daerah gunung kidul kemudian dilanjut ke air terjun Sri gethuk dan Goa pidul tetapi kami mengurungkan niat karena berdasarkan hasil googling dan info dari beberapa sahabat di jogja bahwa yang paling bisa dijangkau oleh kendaraan umum adalah Goa pindul sedangkan yang lainnya masih belum ada transportasi umum yang sedia setiap waktu. Untuk bus umum ke pantai baron dan indrayanti hanya sampai jam 4 sore menuju ke wonosari dan bus dari wonosari ke jogja hanya sampai jam 6. terlambat sedikit kami tak bisa kembali ke jogja, itu yang jadi pertimbangan kami mengurungkan niat ke pantai.

Akhirnya Goa pindul dan Rafting sungai Oya adalah tujuan kami di hari ke-2 di Yogya setelah sebelumnya di hari pertama kami akan berburu batik dan oleh-oleh dengan harga miring di pasar Beringharjo di kawasan malioboro dan kawasan sekitar hotel kami kemudian jalan malam santai ke alun-alun kidul untuk mencoba kebersihan hati kami melewati dua beringin kembar dan menikmati malam minggu di suasana Yogya. (pada jomblo sih)

seminggu sebelum berangkat Hotel yang awalnya kami booking ternyata tidak bisa untuk tanggal 21, paniklah kami mencari alternatif hotel untuk pengganti mengingat waktu semakin terbatas. Laila dan Paul selaku sarana dan prasarana mulai mencari hotel lain yang bisa di booking, menurut info ssih banyak motel/losmen daerah sosrowijayan yang biasa dipakai para backpacker untuk bermalam, tetunya dengan harga yang sangat miring. Belajar dari pengalaman kami di tahun lalu bagaimana repotnya mencari penginapan yang bagus tapi sesuai kantong kami memutuskan untuk booking hotel sebelum berangkat. Dari 18 nama hotel yang kami hubungi didapatlah HOtel Monica di daerah Sosrowijayan dengan harga sewa kamar standar 165.000/malam. Tak ada pilihan lain, kami ambil Hotel itu dengan tujuan agar sesampainya disana kami tidak kelimpungan mencari Hotel.

(21/12), Hari yang ditunggu tiba, sesuai tiket yang diberlakukan PT.KAI bahwa sistem boarding pass mengharuskan para penumpang menyiapkan kartu identitas sesuai nama yang tertera di tiket dan datang paling tidak satu jam sebelum kereta berangkat.

 

 

 

 

 

 

Jpeg

Walaupun fasilitas di kereta sudah terbilang lebih bagus dan nyaman tetapi kebiasaan penumpang yang berdesakan dan tidak mau antri masih menghiasi Stasiun Gubeng lama dan kami berada di tengah kepadatan itu.

Jpeg

Belum lagi aksi saling dorong juga mewarnai boarding pass kami, ditambah dengan keterlambatan kereta api Pasundan yang harusnya datang sebelum pukul 9.10 tetapi datang pukul 9.20 hal ini membuat penumpang kereta api LOgawa (jadwal berikutnya) juga ikut masuk dan menambah kepadatan di dalam ruang tunggu apalagi ruang tunggu dengan AC yang saya kira cukup (jika penumpangnya tidak penuh) tetapi ini terasa sangat pengap dan kurang oksigen.

Terlepas dari itu semua akhirnya kami duduk di dalam kereta yang kami rasakan lebih nyaman daripada di ruang tunggu tadi. 5 Jam akan menjadi waktu yang paling menyenangkan buat kami. Perjalanan dimulai…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Iklan




Flamboyan Putih – cinta itu bukan untukku

1 11 2014

flamboyan putihflamboyan putih jatuh tepat dipangkuanku hingga aku mengerti bahwa cinta itu bukan untukku

 

Sinar keemasan menyiram jiwanya yang lelah menantikan seorang sosok dambaannya di bawah pohon flamboyan yang mengitari sebuah besi mirip kubah. Taman flamboyan menjadi saksi dimana jiwa yang keruh mendapatkan secercah pinta untuk melamarnya kala itu. Tapi sampai kini dia tak datang.

 

“Sudahlah lupakan saja pertemuan itu. Bukankah kau sudah berjanji pada dirimu untuk menjauh dari kisah seperti ini hingga benar-benar hatimu mantap untuk hal ini?”

 

“Jangan dengarkan apa kata orang, turuti kata hati. Janji adalah hutang. Jangan hanya karena kau terlalu lama menunggu hingga kau sakiti lagi hati seorang yang benar-benar ikhlas mencintaimu.”

 

“Ah, itu omong kosong. Cinta, sayang, kasih. Buka matamu, bukankah hidupmu kali ini hanya butuh uang? Ingatkah kau dengan janjimu bertemu pelanggan hari ini. Sudah kau buang sia-sia waktumu hanya untuk seorang gadis tak penting yang menyelip dan menerobos masuk di hidupmu yang kau tata rapi. Mungkin saja dia hanya mau hartamu. Atau hanya sekedar mempermainkanmu.”

 

“Jangan kataku, kau hanya perlu sedikit berkorban untuk mendapatkannya. Seseorang perlu cinta untuk menyempurnakan hidup. Jangan dengarkan dia. Biarlah, tetapkan hatimu untuk menepati janji melamarnya hari ini. Lihat cincin yang kau bawa serta sederet kalimat puitis yang mati-matian semalam kau rangkai untuk momen sekali seumur hidupmu ini.”

 

Hatiku bergejolak, aku harus mendengar yang mana. Aku sendiri bingung dengan hatiku. Kolot mungkin, tapi itulah aku tak akan pernah mengerti dan dimengerti cinta walaupun dulu aku yang mempermainkan cinta.

Baca entri selengkapnya »





AOLENK , Kisah para lelaki pecinta negeri

31 10 2014
Aolenk, laskar lelaki

Aolenk, kisah para lelaki pecinta negeri

Seorang Kahlil Gibran pun pernah bersajak mengenai persahabatan. Dalam penggalan salah satu sajaknya, Gibran mengatakan bahwa sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa. Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan rasa terima kasih. Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang, kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian.

Nah, buku kumpulan catatan perjalanan ini, menceritakan tentang persahabatan 4 orang guru muda dan 1 orang desain grafis yang sangat solid. Mereka menceritakan tentang kejadian-kejadian menyenangkan dan juga kejadian gokil yang mereka alami selama melakukan traveling di berbagai tempat. Diantaranya: Lamongan, Surabaya, Bali, Mojokerto, Madura dan Jogjakarta. Sungguh, kisah mereka penuh haru biru dan menyenangkan sekali untuk dibaca.

– LASKAR LELAKI –

  Baca entri selengkapnya »





Eksotika Pantai Camplong & Pantai Jumiang Madura

8 04 2012

Kekagumanan saya terhadap pantai sepertinya memang bawaan lahir. Se jelek apapun pantai akan terasa indah di mata saya. Setelah perjalanan saya sebelumnya menikmati pantai di jawa (Pantai Dalegan, Parangtritis, Tanjung kodok, Sendang biru, Kenjeran dll ) dan beberapa pantai di Bangkalan dan Sampang ( Pantai Siring Kemuning, Pantai Madegan & Pantai Nepa ) yang bisa dibilang luar biasa dengan masing-masing keunikannya, sayangnya itu hanya tercacat manis dalam hati (vakum ngeblog), kalaupun saya post itu sudah cerita basi hehehe.

Agaknya ajakan seorang kawan dari pulau garam menyusupkan penasaran amat dalam tentang betapa eksotisnya pantai-pantai di pulau terdekat dengan Surabaya ini. Dari pantai dengan air yang lebih mirip susu coklat adik saya hingga airnya yang lebih mirip kubangan air kotor di belakang rumah pernah terbias sedikit indah di memori, tapi lain kali ini. Sahabat Madura saya menawarkan sensasi tiga pantai eksotis di Madura. Camplong di Sampang, Jumiang di Pamekasan dan yang paling terkenal adalah pantai Lombang di Kota paling ujung Madura , Sumenep.

Kekagumanan saya terhadap pantai sepertinya memang bawaan lahir

Kemarin (jumat 6/4/12) dengan rencana awal berkunjung ke Madura dari jam 6 pagi tergeser karena ada keperluan foto prawedding seorang kawan yang kebetulan sudah dekat dan karib dengan saya (Ardi), maka tak enak jika katakan tidak bisa. Rencana berubah, perjalanan jam 7 pagi yang bergeser menjadi 7.30 karena saya kesiangan ( biasa ) dengan tujuan Lamongan terlebih dahulu. Pukul 7 pagi sudah stanby sahabat saya di rumah, tapi saya malah masih tidur. Hehehe…

7.30 seperti yang saya katakan tadi kami (saya dan sahagat saya. Red) berangkat menuju tempat foto. Saya piker Surabaya Lamongan mungkin sekitas satu setengah jam tapi kenyataannya 3 jam berlalu. 2 jam perjalanan dengan jalan aspal dan sisanya jaan berbatu dan paving jadi pelengkap. Memang tempatnya bukan di Lamongan tapi di perbatasan antara Lamongan dan Bojonegoro. Jauhnya…. Baca entri selengkapnya »