Flamboyan Putih – cinta itu bukan untukku

1 11 2014

flamboyan putihflamboyan putih jatuh tepat dipangkuanku hingga aku mengerti bahwa cinta itu bukan untukku

 

Sinar keemasan menyiram jiwanya yang lelah menantikan seorang sosok dambaannya di bawah pohon flamboyan yang mengitari sebuah besi mirip kubah. Taman flamboyan menjadi saksi dimana jiwa yang keruh mendapatkan secercah pinta untuk melamarnya kala itu. Tapi sampai kini dia tak datang.

 

“Sudahlah lupakan saja pertemuan itu. Bukankah kau sudah berjanji pada dirimu untuk menjauh dari kisah seperti ini hingga benar-benar hatimu mantap untuk hal ini?”

 

“Jangan dengarkan apa kata orang, turuti kata hati. Janji adalah hutang. Jangan hanya karena kau terlalu lama menunggu hingga kau sakiti lagi hati seorang yang benar-benar ikhlas mencintaimu.”

 

“Ah, itu omong kosong. Cinta, sayang, kasih. Buka matamu, bukankah hidupmu kali ini hanya butuh uang? Ingatkah kau dengan janjimu bertemu pelanggan hari ini. Sudah kau buang sia-sia waktumu hanya untuk seorang gadis tak penting yang menyelip dan menerobos masuk di hidupmu yang kau tata rapi. Mungkin saja dia hanya mau hartamu. Atau hanya sekedar mempermainkanmu.”

 

“Jangan kataku, kau hanya perlu sedikit berkorban untuk mendapatkannya. Seseorang perlu cinta untuk menyempurnakan hidup. Jangan dengarkan dia. Biarlah, tetapkan hatimu untuk menepati janji melamarnya hari ini. Lihat cincin yang kau bawa serta sederet kalimat puitis yang mati-matian semalam kau rangkai untuk momen sekali seumur hidupmu ini.”

 

Hatiku bergejolak, aku harus mendengar yang mana. Aku sendiri bingung dengan hatiku. Kolot mungkin, tapi itulah aku tak akan pernah mengerti dan dimengerti cinta walaupun dulu aku yang mempermainkan cinta.

Baca entri selengkapnya »





Kala Butir Air Langit Menepuk Debu

26 02 2011

 

Langit mulai menitikkan butiran benih seperti tangismu semalam. Tidak, kau tak menangis, kau hanya mencoba memahami tiap pesan yang tak tersampaikan lewat butiran air langit yang Menepuk desir debu di pijakan kakinya. Kerinduan itu tak pernah terobati meski tak begitu lama terselipnya namamu di hidupku yang sudah sesak dengan jutaan nama yang hanya sekedar aku ingat, bukan yang lebih aku ingat, sepertimu.

 

***

 

Langit masih redup, entahlah mungkin ini memang hari bahagia untukmu. Bukan hanya untuk sesekali menggerakkan pena di atas lembar-lembar kosong diari setelah lembar kemarin yang penuh sesak dengan curahan hati yang masih tercipta kala hujan turun. Mirip lantunan syair pujangga yang mungkin tak pernah tersampaikan kepada awam maksud dan inginnya. Tapi itulah kau, seorang penulis yang merasa dirinya sederhana dan bukan apa-apa. Sebaliknya untukku, sosok yang kurasa tak pernah bermuram, sosok yang penuh ambisi tapi sedikit berapi, mengalahkan kobaranku. Sesekali dia tunjukkan padaku sebuah maha karya tulis yang hanya kau sebut dengan “coretan”, aku pikir itu coretan penuh makna. TAARUF, salah satu mahakarya darimu yang membuat sekat antar kau yang notabene sudah start lebih awal di dunia tulis menulis dan aku seorang yang bukan apa- apa yang ingin juga menggoreskan pena. Baca entri selengkapnya »